Wednesday, October 27, 2010

iPad Bantu Komunikasi Anak Berkebutuhan Khusus - Media Indonesia



KETIKA merancang iPad, pihak Apple tak menyangka kalau perangkat besutan mereka dapat mengatasi masalah komunikasi yang dialami anak-anak berkebutuhan khusus. Kenyataannya, perangkat itu justru berguna bagi mereka.

Seperti dikutip dari wsj.com, sejumlah anak berkebutuhan khusus kini menggunakan iPad untuk berkomunikasi dan belajar. Dengan perangkat itu, orang tua dapat memasang berbagai aplikasi yang dapat digunakan anak-anak mereka untuk belajar. Salah satu peranti lunak yang banyak diinstal oleh mereka adalah Proloquo2Go.

Berbekal aplikasi yang dikembangkan Assistive Ware BV itu, anak-anak yang mengalami kesulitan dalam hal berbicara bisa berkomunikasi lancar dengan orang lain. Chief Executive Officer Apple Steve Jobs berharap desain iPad yang mudah digunakan bisa membantu anak-anak berkebutuhan khusus untuk menggunakan perangkat itu dengan cepat. ''Kami tidak menduga kalau iPad bisa menjadi alat terapi. Sebenarnya, iPad tidak didesain khusus untuk itu,'' ungkap Jobs.

Perangkat yang diciptakan khusus untuk anak berkebutuhan khusus sebenarnya sudah ada. Beberapa vendor yang memproduksinya adalah Dyna Vox dan Prentke Romich Co. Untuk produk yang memungkinkan pengguna mengetik dengan menggunakan gerakan mata, harga yang mereka tawarkan terbilang mahal karena berkisar dari US$2.500-15.000. Produk terbaru Dyna Vox, yaitu Maestro yang mendukung teknologi layar sentuh, diluncurkan pada Oktober 2010 dengan harga US$7.820.

Sementara iPad dibanderol dengan harga yang jauh lebih murah, yaitu berkisar dari US$499 sampai US$829. Psikolog dari Orange County Department of Education di California, Bill Thompson, mengatakan iPad membantu menghilangkan stigma sosial. Sementara itu, peneliti di Massachusetts Institute of Technology mengungkapkan bahwa mereka berencana melakukan penelitian untuk melihat manfaat lain dari komputer tablet yang berguna bagi anak autis atau yang sulit berbicara. (Noy/X-12)


Anak Berkebutuhan Khusus

Sunday, October 24, 2010

iPad Bantu Komunikasi Anak Berkebutuhan Khusus - Media Indonesia



KETIKA merancang iPad, pihak Apple tak menyangka kalau perangkat besutan mereka dapat mengatasi masalah komunikasi yang dialami anak-anak berkebutuhan khusus. Kenyataannya, perangkat itu justru berguna bagi mereka.

Seperti dikutip dari wsj.com, sejumlah anak berkebutuhan khusus kini menggunakan iPad untuk berkomunikasi dan belajar. Dengan perangkat itu, orang tua dapat memasang berbagai aplikasi yang dapat digunakan anak-anak mereka untuk belajar. Salah satu peranti lunak yang banyak diinstal oleh mereka adalah Proloquo2Go.

Berbekal aplikasi yang dikembangkan Assistive Ware BV itu, anak-anak yang mengalami kesulitan dalam hal berbicara bisa berkomunikasi lancar dengan orang lain. Chief Executive Officer Apple Steve Jobs berharap desain iPad yang mudah digunakan bisa membantu anak-anak berkebutuhan khusus untuk menggunakan perangkat itu dengan cepat. ''Kami tidak menduga kalau iPad bisa menjadi alat terapi. Sebenarnya, iPad tidak didesain khusus untuk itu,'' ungkap Jobs.

Perangkat yang diciptakan khusus untuk anak berkebutuhan khusus sebenarnya sudah ada. Beberapa vendor yang memproduksinya adalah Dyna Vox dan Prentke Romich Co. Untuk produk yang memungkinkan pengguna mengetik dengan menggunakan gerakan mata, harga yang mereka tawarkan terbilang mahal karena berkisar dari US$2.500-15.000. Produk terbaru Dyna Vox, yaitu Maestro yang mendukung teknologi layar sentuh, diluncurkan pada Oktober 2010 dengan harga US$7.820.

Sementara iPad dibanderol dengan harga yang jauh lebih murah, yaitu berkisar dari US$499 sampai US$829. Psikolog dari Orange County Department of Education di California, Bill Thompson, mengatakan iPad membantu menghilangkan stigma sosial. Sementara itu, peneliti di Massachusetts Institute of Technology mengungkapkan bahwa mereka berencana melakukan penelitian untuk melihat manfaat lain dari komputer tablet yang berguna bagi anak autis atau yang sulit berbicara. (Noy/X-12)


Autism Info

Saturday, October 23, 2010

Pramuka "Luar Biasa" pun Mampu Eksis - Galamedia



JATINANGOR,(GM)-
Pramuka "Luar Biasa" adalah anak-anak yang hebat serta mampu hidup dan bersatu dengan alam, sehingga akan dapat bertahan menghadapi berbagai tantangan. Pramuka Luar Biasa pun harus mampu membuktikan diri bisa eksis.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Jabar, H. Moh. Wahyudin Zarkasyi, mewakili Gubernur Jabar, H. Ahmad Heryawan pada upacara pembukaan "Raimuna dan Gelar Seni Pramuka Luar Biasa" se-Jawa Barat di Bumi Perkemahan Kiarapayung, Jatinangor, Kab. Sumedang, Jumat (22/10).

Wahyudin mengatakan, dalam pembinaan kepramukaan di Jabar, Pemerintah Provinsi Jabar memberikan dukungan penuh agar terlaksananya berbagai upaya dalam revitalisasi Gerakan Pramuka di Jabar. Potensi anggota Gerakan Pramuka di Jabar saat ini mencapai 3.272.914 orang.

Di dalamnya termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus atau disebut Pramuka Luar Biasa, yaitu anak berkebutuhan khusus yang bersekolah di sekolah luar biasa (SLB), tersebar di seluruh kabupaten/kota se-Jabar.

Upacara pembukaan raimuna yang sedianya dihadiri Gubernur Jabar berlangsung meriah dan para peserta yang terdiri dari anggota Pramuka Luar Biasa dari berbagai tingkatan pendidikan luar biasa se-Jabar ini tampak sangat antusias mengikuti jalannya upacara.

Setelah Wahyudin memukul kentongan dan melepaskan merpati tanda dimulainya kegiatan Raimuna dan Gebyar Seni Pramuka Luar Biasa (SLB) se-Jabar ini, maka ditampilkan berbagai atraksi kesenian dari daerah masing-masing. Lapangan upacara di arena Raimuna dan Gebyar Seni Pramuka di Bumi Perkemahan Kiarapayung sangat meriah. Para utusan Pramuka Luar Biasa dari tiap kabupaten/kota tak mau ketinggalan menampilkan kesenian khas daerahnya masing-masing.

Dalam acara pentas kesenian, para anggota Pramuka Luar Biasa meminta Kadisdik untuk menunggang sisingaan yang disuguhkan kontingen dari Kab. Subang. Begitu turun dari dari sisingaan, Wahyudin langsung diserbu para pelajar SLB. Mereka semua minta berfoto bareng serta bersalaman secara bergantian.

Sementara itu, Kepala Bidang PLB Disdik Jabar, H. Dadang Rahman Munandar, M.Pd. selaku penanggung jawab kegiatan menjelaskan, kegiatan ini diikuti 920 peserta dari 46 Gugus SLB se-Jabar. Mereka akan menempa diri sambil berlomba selama tiga hari mulai 20-24 Oktober.

Selain kegiatan-kegiataan olahraga, kesenian serta berbagai keterampilan Pramuka, diadakan pula pameran barang-barang hasil karya dan kerajinan para siswa SLB dari seluruh Provinsi Jawa Barat. Para peserta berharap, gubernur atau wagub bisa hadir dalam acara penutupan nanti. (B.48)**


Total Football Info

Friday, October 22, 2010

Pramuka "Luar Biasa" pun Mampu Eksis - Galamedia



JATINANGOR,(GM)-
Pramuka "Luar Biasa" adalah anak-anak yang hebat serta mampu hidup dan bersatu dengan alam, sehingga akan dapat bertahan menghadapi berbagai tantangan. Pramuka Luar Biasa pun harus mampu membuktikan diri bisa eksis.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Jabar, H. Moh. Wahyudin Zarkasyi, mewakili Gubernur Jabar, H. Ahmad Heryawan pada upacara pembukaan "Raimuna dan Gelar Seni Pramuka Luar Biasa" se-Jawa Barat di Bumi Perkemahan Kiarapayung, Jatinangor, Kab. Sumedang, Jumat (22/10).

Wahyudin mengatakan, dalam pembinaan kepramukaan di Jabar, Pemerintah Provinsi Jabar memberikan dukungan penuh agar terlaksananya berbagai upaya dalam revitalisasi Gerakan Pramuka di Jabar. Potensi anggota Gerakan Pramuka di Jabar saat ini mencapai 3.272.914 orang.

Di dalamnya termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus atau disebut Pramuka Luar Biasa, yaitu anak berkebutuhan khusus yang bersekolah di sekolah luar biasa (SLB), tersebar di seluruh kabupaten/kota se-Jabar.

Upacara pembukaan raimuna yang sedianya dihadiri Gubernur Jabar berlangsung meriah dan para peserta yang terdiri dari anggota Pramuka Luar Biasa dari berbagai tingkatan pendidikan luar biasa se-Jabar ini tampak sangat antusias mengikuti jalannya upacara.

Setelah Wahyudin memukul kentongan dan melepaskan merpati tanda dimulainya kegiatan Raimuna dan Gebyar Seni Pramuka Luar Biasa (SLB) se-Jabar ini, maka ditampilkan berbagai atraksi kesenian dari daerah masing-masing. Lapangan upacara di arena Raimuna dan Gebyar Seni Pramuka di Bumi Perkemahan Kiarapayung sangat meriah. Para utusan Pramuka Luar Biasa dari tiap kabupaten/kota tak mau ketinggalan menampilkan kesenian khas daerahnya masing-masing.

Dalam acara pentas kesenian, para anggota Pramuka Luar Biasa meminta Kadisdik untuk menunggang sisingaan yang disuguhkan kontingen dari Kab. Subang. Begitu turun dari dari sisingaan, Wahyudin langsung diserbu para pelajar SLB. Mereka semua minta berfoto bareng serta bersalaman secara bergantian.

Sementara itu, Kepala Bidang PLB Disdik Jabar, H. Dadang Rahman Munandar, M.Pd. selaku penanggung jawab kegiatan menjelaskan, kegiatan ini diikuti 920 peserta dari 46 Gugus SLB se-Jabar. Mereka akan menempa diri sambil berlomba selama tiga hari mulai 20-24 Oktober.

Selain kegiatan-kegiataan olahraga, kesenian serta berbagai keterampilan Pramuka, diadakan pula pameran barang-barang hasil karya dan kerajinan para siswa SLB dari seluruh Provinsi Jawa Barat. Para peserta berharap, gubernur atau wagub bisa hadir dalam acara penutupan nanti. (B.48)**


Blog Tutorial

Wednesday, October 20, 2010

Sophie Navita Naksir Christian Bautista - Cinema 21



Setelah menjadi pimpinan agen cinta bersama Fedi Nuril Alex Abbad, Yama Carlos, dan Lukman Sardi dalam film Aku atau Dia, kini Sophie Navita banting stir menjadi orangtua murid berkebutuhan khusus yang terpikat dengan gurunya.

Sebuah film produksi Nation Pictures dan Primetime Production berjudul Simfoni Luar Biasa akan dibintangi Sophie bersama Christian Bautista, Ira Wibowo, dan Maribeth. Dalam film yang menceritakan tentang kisah anak-anak dengan kebutuhan khusus itu, Sophie berperan sebagai Helena.

“Saya berperan sebagai Helena, orang tua murid berkebutuhan khusus. Helena itu wanita yang dandan banget  dan single parent, karena itu pas ada cowok cakep dikit dia langsung melintir. Dia itu naksir atau yang lebih pas, ‘kegatelan’ sama Jayden (Christian Bautista), guru yang mengajar anaknya,” kata Sophie saat ditemui di Yayasan Pembinaan Anak Cacat Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (19/10), dalam acara syukuran film Simfoni Luar Biasa.

Kembali berakting menurutnya adalah kembalinya menjawab tantangan. Apalagi sekarang wanita yang selalu menerima perannya dengan melihat bagus atau tidak jalan ceritanya ini beradu akting dengan Christian Bautista.  Dalam perannya, Sophie mencoba menarik perhatian kepada Christian karena dirinya seorang single parent. 

Untuk membangun chemistry dengan Christian, Sophie pun punya jawaban sendiri. “Saya belum bisa ngomong apa-apa, karena workshop baru saja berjalan kemarin. Sampai saat ini masih baik-baik saja. Saya yakin dia (Christian Bautista) bisa bekerja profesional begitu juga saya. Saya dan dia akan bekerjasama untuk memunculkan ‘kegatelannya’ itu,”  ujar Sophie sambil tersenyum. (eM_Yu)
 



Anak Berkebutuhan Khusus

Monday, October 11, 2010

Catherine Zeta-Jones Tampil di Broadway Karena Anaknya yang Berkebutuhan Khusus



Awal tahun ini, Catherine Zeta-Jones, untuk pertama kalinya, melakukan penampilan musikal di panggung Broadwal, New York City. Ternyata kiprahnya dalam proyek musikal itu didorong oleh salah seorang anaknya yang berkebutuhan khusus. Hmmm, apa hubungannya ya?

Drama musikal yang dibintangi Zeta-Jones berjudul A Little Night Music. Berhadapan dengan Angela Lansbury, nada-nada tinggi yang ditampilkannya di Teater Walter Kerr, Broadway, NYC itu rupanya mampu memukau para kritikus yang langsung memberinya nilai plus.

Dalam sebuah wawancara dengan majalah Parade, Michael Douglas, suami Zeta-Jones yang divonis mengidap kanker stadium IV, mengatakan bahwa proyek musikal istrinya itu dapat terlaksana karena kepindahan mereka ke Big Apple.

Kepindahan keluarga Douglas ke NYC dari gemerlapnya Hollywood di Los Angeles sana, ternyata dipicu oleh salah satu anak mereka yang memiliki kebutuhan khusus. "Salah satu anak kami berkebutuhan khusus, dan kami direkomendasikan untuk menyekolahkannya ke sebuah sekolah khusus di New York," ujar Douglas, seperti dilansir dari Contactmusic.com.

Mengetahui sekolah yang pas untuk anaknya yang berkebutuhan khusus tersebut berlokasi di New York, Zeta-Jones mengatakan bahwa ia akan melakukan proyek musikal di Broadway. "Mengetahui hal itu, Catherine berkata, 'Well, aku akan melakukan proyek musikal saja...'" tambah Douglas, yang mengungkapkan mereka akan tinggal di New York sampai akhir September.

Sayangnya, Douglas menolak mengungkapkan siapa dari kedua anaknya dengan bintang The Legend of Zorro itu yang mempunyai kebutuhan khusus, maupun "kebutuhan khusus" apa yang diidapnya. Tapi kita bisa saja menebaknya. Entah itu putra mereka Dylan Michael Douglas yang lahir tanggal 8 Agustus 2000, atau putri mereka Carys Zeta Douglas yang lahir tanggal 20 April 2003. (put/contactmusic/gambar: realbollywood.com; celebritybabyblog.com)

Purwaning S. Hastuti, S.Pd,:Menikmati Suasana Mengajar - Pos Kupang



MENJADI seorang pengajar sekaligus tenaga pendidik bagi anak-anak berkebutuhan khusus bukanlah pekerjaan mudah. Namun, tidak demikian dengan Purwaning S. Hastuti, S.Pd.


Ibu dua anak ini telah bekerja sekitar 10 tahun untuk mendidik anak-anak cacat agar menjadi orang-orang yang berilmu dan mandiri. Tidak mudah bagi wanita kelahiran Mojokerto ini untuk bisa mendidik anak-anak berkebutuhan khusus, namun semua dikerjakannya dengan senang hati.


Setiap tantangan dalam pekerjaan selalu dihadapi dengan senang hati bahkan ia menikmati tantatangan tersebut. Baginya tidak ada kata jenuh, jengkel atau hal-hal yang tidak menyenangkan menghadapi murid-muridnya.


Karena menikmati pekerjaan dan tantangan itulah, ia merasa mengajar merupakan bagian dari hiburan untuk dirinya. Dedikasi pada anak-anak cacat ini pula yang membuatnya terpilih menjadi Guru Pendidikan Luar Biasa Berdedikasi tingkat Propinsi NTT tahun 2010.  Ia pun mewakili guru Pendidikan Luar Biasa (PLB) ke tingkat nasional.


Apa saja keseharian yang dialami oleh Purwaning yang sehari- hari berhadapan dengan anak-anak cacat. Apa saja yang dirasakan saat mengajar? Berikut petikan perbincangan Purwaning dengan Pos Kupang belum lama ini.


Sejak kapan Anda menjadi guru untuk pendidikan luar biasa?
Kalau di Kupang saya baru tahun 2006 lalu, sebelumnya di Jawa, tapi sejak tahun 1989 sudah mengajar.


Suka-duka mengajar anak berkebutuhan khusus?
Sukanya banyak, tapi dukanya juga banyak. Kalau dukanya, anak ini diajar ya tidak bisa-bisa juga, kalau sukanya ngajar anak yang cepat tanggap dan punya keberhasilan itu yang membanggakan. Contohnya kalau anak-anak berlomba lalu berhasil sampai tingkat nasional itu yang membanggakan.


Kalau dukanya seperti apa?
Dukanya kalau orangtua tidak mendukung, kita duka sekali. Kita mau anak supaya maksimal dalam belajar, tapi kalau hanya dilatih di sekolah saja dan tidak dilatih di rumah, itu yang membuat kami rasanya terbebanlah. Orangtua tidak bisa hanya mengandalkan sekolah, tapi di rumah tidak dibantu. Padahal waktu anak itu terbanyak ada di rumah. Kalau orangtua yang mendukung itu kita senang sekali. Dan, anak lebih maksimal.


Kira-kira kenapa orangtua kurang memberikan perhatian.
Mungkin karena orangtua terlalu sibuk, tidak ada waktu untuk anak. Ada orangtua yang masa bodoh, dengan pemikiran ya sudah anak saya sudah disekolah di SLB, ya seperti itu.  Orangtua yang mengerti ya dibantu anak-anaknya itu, apalagi anak-anak yang punya potensi itu kalau dibantu lagi sama orangtua ya jadinya berprestasi. Tapi ada juga orangtua yang acu-acu saja, padahal hadia yang didapat anak yang berprestasi itu jadi milik anak itu, bukan kita guru yang dapat tapi anak yang dapat. Itu juga sebenarnya membanggakan orangtua, kalau hadinya uang ya dibawa pulang oleh anaknya. Kecuali medali yang atas nama sekolah jadi disimpan di sekolah, kecuali uang, baranag-barang hadia  dan sertifikast itu dibawa pulang.


Sukanya?
Sukanya kalau kami melihat anak-anak ini berhasil, kami senang sekali. Kami merasa puas sekali dan menjadi motivasi kami untuk menjadikan prestasi yang lebih bagus pada masa berikutnya.


Bagaimana rasanya menjadi guru anak-anak berkebutuhan khusus saat mengajar di kelas? Anda kan tidak berhadapan dengan anak-anak normal.
Di kelas kita mengajar individual, jadi anak harus dibimbing satu persatu. Tapi ada juga orangtua yang membantu kita, kita bimbing anak-anak, tidak bisa dilakukan secara klasikal karena kemampuan anak-anak ini perindividu. Apalagi sekarang seperti yang saya alamai, satu anak ini otak normal dan satu lagi ada anak berkebutuhan khusus (ganda ke C) dimana, penjumlahan dengan bilangan yang kecil saja susah. Misalnya sembilan tambah tujuh itu tidak bisa dijawab, di kelas III saja sudah sudah sulit, tidak seperti anak yang lain. Kondisi ini diperparah lagi kalau orangtua tidak bisa bantu di rumah. Tapi kalau di rumah ada bimbingan, biar sekecil apapun pasti anak akan bisa lebi cepat dalam perkembangan belajar. Ada lagi muridku yang tuna rungu dan tuna daksa, itu memang kalau kita tuntut akademik sangat sulit, minimal anak itu bisa berhitung dan kebetulan orangtuanya juga memiliki perhatian jadi anak ini selalu ada perubahan dan itu menjadi kesenangan dan kebanggaan buat kami. Jadi kami sengat bahagia kalau orangtua mendukung, apalagi anak bisa berprestasi di tingkat nasional tentu kami bahagia sekali.


Saat mengajar, ada batas kesabaran menghadapi anak-anak yang berkebutuhan khusus ini. Bagaimana Anda bisa mengatur diri agar Anda bisa tetap bersabar dan mereka juga bisa menjadi orang seperti diharapkan orangtua dan kita semua...
Kalau kita menghadapi anak yang begini ya memang harus sabar. Jadi kita sudah ambil jurusan PLB, secara otonomis komitmen kita adalah harus sabar menghadapi anak, ya memang wajar juga karena kita manusia kalau kita sampai emosi kalau mengajar anak dan tidak ada perkembangan. Tapi sedikit banyak kita kendorkan diri sendiri, kita tidak mungkin paksa diri untuk target tertentu. Kita sendiri harus bisa melatih kesabaran kita.


Jadi kalau ada anak yang kita ajar terus tidak bisa juga, kita lihat mutnya apa, atau kita kasih dia pelajaran yang lain dulu, kasih keterampilan apa dulu. Ini dilakukan untuk menghilangkan perasaan jengkel atau marah kita, kita lihat anak itu sukanya apa. Misalnya dia suka mewarnai maka kita selingkan dulu dengan mewarnai lima menit atau 10 menit nah baru kita mulai lagi melanjutkan dengan materi belajar.


Kalau memang tidak bisa juga, maka kita minta saat belajar dirumah minta bantuan kakak atau adiknya, atau orangtuanya. Atau kalau orangtuanya ada, ya kita kasih tahu pada orangtua bahwa tolong anak ini dibantu.

Tapi kita tidak bisa marah dengan anak-anak ini, paling tertawa. Mau bilang apa? Hanya bisa tertawa, hibur diri. Atau saat belajar itu, kita minta temannya untuk membantu anak ini. Cara ini ini bagus juga, karena dengan sendirinya anak akan memacu diri dan saling berlomba untuk bisa.


Apakah ada kemungkinan anak yang berkebutuhan khusus ini lupa dengan pelajaran yang sudah diajarkan?
Kalau anak tuna grahita ya jelas lupa, kebanyakan lupa. Jangankan tunggu besok, pelajaran yang baru diajarkan lima menit yang lalu bisa lupa begitu saja. Namanya juga tuna grahita tentu lambat sekali kemampuan belajar. Itu kendala kami, kalau anaknya seperti itu ya mau bilang apa. Kita tidak bisa memaksa anak layaknya normal, ini anak luar  biasa.


Kita tinggal mengikuti gaya belajar anak, maksudnya kemampuan anak ini sampai di mana. Itu saja yang kita kasih di anak, kalau anaknya bisanya menyapu lantai dan mengepel maka itulah yang kita latih untuk keterampilan menyapu lantai dan mengepel dan akademiknya tidak usah terlalu tinggi, kita cari yang sederhana saja. Misalnya anak kelas enam, kalau kemampuannya seperti kelas I dan II SD pada sekolah normal.


Jadi pelajaran tetap kita sesuaikan dengan kemampuan anak, pelajaran juga demikian. Tapi kalau anak tuna rungu murni, itu bisa seperti anak normal, cuma tata bahasnya diserdehanakan dan kalimatnya tidak perlu terlalu banyak karena pemahamannya sangat kurang.


Anda betah mengajar anak-anak berkebutuhan khusus ini?
Ya.... yang pasti betah sekali, karena itu sudah menjadi tugas kami, tugas guru SLB. Kita kan memilih pendidikan sarjana PLB jadi sudah menjadi tanggung jawab kita sebagai guru SLB. Kita senang saja, enjoy saja. Malah itu menjadi kebanggan kita, karena orang lain tidak bisa mengajar anak SLB sedangkan kami bisa mengajar anak SLB. Jadi kita senang saja, memang talenta kita di SLB. Tidak mungkin kita mau lari, kalau lari ya kemana.


Puas juga?
Ya puas sekali, apalagi bisa melihat anak didik atau binaan kita berhasil, ya kami sangat senang.


Guru SLB ini sangat sedikit, yang saya dengar itu sangat sulit orang mau menjadi guru PLB. Anda malah suka ya?
Tidak tau juga ni... Waktu aku ambil Diploma pendidikan sekolah luar  biasa juga aku tidak sengaja. Tidak punya rencana juga. 


Anda menikmati pekerjaan ini?
Saya menikmati sekali, buat apa hidup kita buat susah-susah, apa yang ada di hadapan kita ya kita nikmati saja dari pada kita hidup hanya menggerutu, mengeluh nanti Tuhan tidak berkati hidup kita. Kita nikmati saja nanti Tuhan kasih berkat.


Pada bulan Agustus lalu, Anda terpilih  menjadi guru PLB berdeikasi. Bagaimana ceritanya?
Kalau guru berdidikasi  itu waktu itu ada pemberitahuan dari propinsi tentang pemilihan guru berdedikasi tingkat Propinsi NTT dulu, jadi ada sejenis lomba. Jadi bersyukur karena saya terpilih sebagai guru PLB berdedikasi tingkat Propinsi NTT.  Akhirnya saya dikirim ke tingkat nasional. Waktu di tingkat propinsi itu dinilai secara ketat juga, bukan langsung pilih-pilih. Kita melewati beberapa test yaitu test tertulis, wawancara dengan juri ada lima orang. Mungkin saya bisa memenuhi kriteria-kriteria itu maka saya dikirim ke tingkat nasional di Jakarta bersama dengan guru berprestasi dan berdikasi dari jenjang sekolah formal lainnya. Ada juga guru berdedikasi sekolah daerah terpencil.


Apakah Anda juga memiliki  pemahaman bahwa siswa Anda harus bisa?
Iya itu jelas, karena ada kurikulumnya. Dan, sesuai kurikulum itu kita harus pacu anak agar sampai bisa. Misalnya tahun ini, sekian anak harus bisa sampai tahap ini maka kita pacu agar anak-anak bisa mencapai target belajar yang kita harapkan. Kita kerjar sesuai yang ada di kurikulum dan tentu harus sesuai dengan kemampuan anak. Kalau anak tunarungu, tuna netra, tuna daksa dan tuna laras atau cacat murni    kan harus ikut ujian nasional. Nah itu kita pacu agar anak-anak ini bisa menyelesaikan kurikulum yang ada sehingga harus ikut ujian nasional. Keculai yang tuna grahita itu harus ikut ujian sekolah karena sesui kemampuan anak.


Apakah juga Anda memberikan pelatihan bagi anak berkebutuhan khusus ini seperti life skill?
Kalau keterampilan seperti life skill ini untuk siswa di tingkat SMP, kalau SD masih di kelas saja. Kalau keterampilan di tingkat SMP sudah belajar di sentra-sentra seperti di SLB pembina ini ada otomotif, tata busana, tata boga, akupresur, ICT, pertukangan, sablon dan kencatikan jadi ada delapan keterampilan. Kebetulan saya ini guru kelas di SD kelas III di kelas tuna rungu.


Anda mengajar. Anda tentu tahu perilaku anak-anak ini aneh- aneh saja. Misalnya saat mengajar terus ada yang menangis lalu ada yang tidak mau diajar. Apa yang Anda bisa lakukan?
Itulah keunikannya SLB. Memang ada di kelas ada yang anak hiper aktif, ada yang lompat-lompat, ada yang naik diatas kursi itu kita harus bisa mencegah dia. Kalau dia suka apa ya kita kasih. Kita tidak boleh menggunakan cara-cara kekerasan, kita tetap harus mengajar dengan kasih, tanpa kekerasan dan hanya perlu ketegasan saja.  Misalnya ada yang naik di atas meja na kita  hanya bilang " Haya turun, duduk!".


Tapi nalar mereka lambat dan sulit memahami
Ya kita dekatin baik-baik dan berusaha tegas saja. Kita tidak bisa dengan cara halus, tapi harus dengan nada suara yang tegas. Kita sambil bantu untuk menurunkan dari meja.


Sebenarnya apa yang dibutuhkan oleh anak-anak berkebutuhan khusus?
Anak-anak ini hanya membutuhkan bisa baca, menulis  dan berhitung saja serta sesuai dengan kurikulum yang ada. Memang kita harus ekstra mengajar karena mereka ini anak-anak berkebutuhan khusus. Kalau di kelas sekolah umum biar mengajar sampai 50 orang juga bisa, tapi kalau di sini mengajar 10 anak saja kita sudah bingung. Kita di sini ada yang delapan siswa satu guru, ada juga yang 10 siswa satu guru dan itu penanganan secara individual. Nah itu yang menguji ketalatenan dan kesabaran kita.


Kalau delapan anak satu kelas, kalau ditangani secara individu berarti ada delapan keinginan yang berbeda?
Ia benar begitu. Sebenarnya maksimal satu kelas harus lima orang saja. Jadi kita lihat anak-anak dan kita bisa bagi dalam kelompok-kelompok kecil sesuai dengan kemampuan, ada juga yang kita harus layani satu persatu. Ada juga anak-anak yang memiliki kemampuan sama ya kita gabungkan dalam satu kelompok, satu kelompok yang kemampuannya lebih rendah ya kita buat kelompok sendiri lagi.


Mengajar ini perlu kesabaran. Apalah ada guru yang tidak sanggup dan menyerah pada kondisi ini?
Ya namanya manusia, kesabaran orang juga ada batas. Biasalah guru mengeluh kalau ada masalah, tapi kita sesama guru biasa sharing untuk tukar pengalaman dan cara mengajar untuk menghadapi siswa dengan perilaku yang berbeda-beda ini.  Kita sering  



Bagaimana Anda melihat perhatian orangtua pada anak-anak berkebutuhan khusus, yang seperti Anda alami?
Beraneka ragam, kalau orangtua itu punya perhatian dan membantu anak-anak ini di rumah maka kita merasa senang karena terbantu juga. Tapi kalao orangtua kurang memperhatikan dan hanya berharap guru-guru di sekolah maka itu akan menjadi kesulitan kita juga. Kita memang menjalankan tugas ini tetapi dukungan orangtua akan sangat membantu anak- anak ini dan lebih cepat untuk maju. Kalau tanpa dukungan orangtua tentu kami merasa berat, tapi kami tetap menjalankan panggilan tugas ini. Tapi kasian juga anak-anak yang hanya berharap pada guru di sekolah, karena waktu anak terbanyak di rumah bersama dengan orangtua, sementara di sekolah hanya beberapa jam saja. Dan, kasih sayang orangtua dalam membimbing anak-anak ini tentu diperlukan anak-anak. Bagaimapun juga keberhasilan anak akan terhambat bila kurang perhatian dari orangtua. Jadi ada juga orangtua yang perhatikan anak dan ada juga yang hanya berharap dari sekolah saja.


Bagaimana perhatian pemeritah terhadap anak-anak berkerbutuhan khusus? Seperti yang ada ketahui

Kalau saya lihat selama ini, perhatian cukup besar termasuk ada pemberian siswa untuk siswa SLB, dana Bos juga ada meski dananya sedikit berbeda. Dana bos ini sesuai jumlah siswa, jadi dana bos di sekolah umum reguler itu besar karena muridnya banyak. Dana bos di SLB ini tidak banyak karena muridnya juga sedikit. Tapi bersyukurlah bisa memenuhi kebutuhan kami meski belum maksimal. Cuman SLB kita ini di kota ini rasa-rasanya tersisi, karena kalau ada pertemuan kepala sekolah atau guru- guru tingkat kota itu seakan-akan SLB itu kurang diperhatikan. Mungkin merasa kita ini sekolah luar biasa. Kalau guru-guru di SD umum itu kompak, mereka biasa buat kegiatan ini dan itu, kalau kita di SLB ini kurang diajak. Tapi kalau bantuan itu bos baik.


Bagaimana Anda bisa memilih PLB?
Jadi waktu tamat SMA, saya mau jadi guru jadi masuk mendaftar ke Institit Keguruan dan Ilmu Pendidikan (Ikip) Surabaya, terus saat pulang saya liat ada tulisan Sekolah Guru PLB, tidak kenapa kok saya malah ke situ dan mendaftar dan saat test ya lolos ya jadinya saya mahasiwa di situ.  Jadi mungkin talenta yang membuat kita senang, ya memang tidak semua orang bisa begitu. Saya sudah bekerja seperti ini sejak tahun 1989, jadi akhirnya ya menikmati saja. Apalagi saat ini saya sudah menambah keterampilan di anak autis, ya senang karena bisa mengajar di anak tuna rungu, tuna grahita, anak autis. Cuma aku tidak bisa mengajar anak tuna netra, karena saya kesulitas mempelajarai hurug braile. Saya memang menekuni tana rungu dan tuna grahita, tapi bisa juga pada tuna daksa.

Saya pernah training autis, jadi di Surabaya itu pernah menjadi terapis autis. Kembali di Kupang ya saya terapkan lagi, tapi praktik sore di tempatnya ibu Santi di BTN-Kolhua.


Tahun berapa datang di Kupang?
Tahun 2000, aku datang ke Kupang karena mengikuti suami. Suami ku orang sini. Anak dua, laki-laki dan perempuan. (alfred dama)



Data diri

Nama : Purwaning S. Hastuti, S.Pd

Tempat Tanggal Lahir : Mojokerto - Jawa Timur  11 Juni 1965

Pendidikan : SD Watas 2 Mojokerto

                     SMPN 3 Mojokerto

                     SMA YBK

                    D3  SGPLB   Surabaya

                    S1 Jurusan PLB, Universitas PGRI Surabaya

Mulai Mengajar di SLB Pembina Kupang tahun 2006

Suami  : Sefnat Asbanu, S.Sos

Anak-anak    :  Junior M. Pratama Asbanu

                         Aprilia T.A Asbanu

Yang Terbatas, yang Berprestasi - KOMPAS.com



KOMPAS.com — Bapak… Tiok nomor satu…,” ujar Prasetyo Achmad (12), anak berkebutuhan khusus, kepada bapaknya sambil mengacungkan ibu jarinya dan tersenyum.

Sang bapak, Rofii (43), hanya bisa terkaget-kaget dari bawah podium. ”Anak saya juara? Lho... saya kira itu tadi uji coba,” ujar pegawai negeri sipil (PNS) di Kementerian Pertanian ini sambil melambai ke arah Tiok.

Melihat kebahagiaan anaknya menerima medali juara I lomba lari 25 meter di festival olahraga gabungan untuk memperingati Eunice Kennedy Shriver (EKS Day), Sabtu (25/9/2010) di Stadion Pemuda Rawamangun, Kompleks Gelanggang Olahraga Rawamangun, Jakarta, Rofii hanya tersenyum. ”Sebelum ini, Tio juga menang di kejuaraan lari untuk anak-anak dengan keterbatasan di awal 2010,” ujar Rofii.

Kebahagiaan juga terlihat di wajah Tita. Peserta lomba lari 25 meter dengan nomor dada 1772 itu cepat-cepat melangkah saat pemberi aba-aba meminta peserta segera lari. Meski tidak menang, senyum lebar terus saja menghiasi wajahnya.

Seperti Tiok dan Tita, Raras, murid kelas III SMALB Asih Budi II Jakarta juga menikmati lomba lari. Seusai lomba, ia sibuk bercerita. ”Dia juara II kejuaraan bulu tangkis Special Olympics Indonesia Januari 2010 lalu di Jakarta,” ujar Solihin (50), bapak Raras.

Solihin mengungkapkan, keterbelakangan daya tangkap Raras dimulai dengan panas tinggi dan kejang-kejang di usia tujuh bulan. Hingga umur tiga tahun, Raras menjalani terapi karena ia mengalami keterlambatan jalan dan bicara. ”Kami sudah bisa menerima keterbelakangan itu,” ujar Solihin.

Solihin menambahkan, anak seperti Raras mau tidak mau selalu bergantung pada keluarga. Namun, ia mencoba mengajarkan menjahit kepada Raras supaya ia mandiri.

Di acara EKS Day itu, sekitar 400 anak penyandang tunagrahita dari SDLB, SMPLB, dan SMALB di wilayah DKI Jakarta, pelatih, keluarga, dan pengurus Special Olympics Indonesia (SOIna) datang. Anak-anak berkebutuhan khusus itu mengikuti lomba atletik lari nomor 25 meter dan 50 meter, sepak bola, dan bocce atau lempar bola seusai mengikuti senam bersama.

Ketua Umum Pengurus Pusat SOIna Pudji Hastuti berujar, bagi anak-anak berkebutuhan khusus dan punya keterbatasan, khususnya penyandang tunagrahita, Eunice Kenndey Shriver memiliki arti khusus. Eunice mendirikan Gerakan Special Olympics sebagai upaya untuk membuka mata dunia, mereka yang berketerbatasan dan berkebutuhan khusus juga memiliki kemampuan lebih.

Gerakan Special Olympics bermula pada kegiatan kemah olahraga (sport camp) tahun 1960 yang diselenggarakan Eunice di rumahnya di Maryland, AS. Dari semula 75 atlet berkebutuhan khusus yang ikut acara itu, hingga kini sudah 3,5 juta atlet berkebutuhan khusus, 750.000 pelatih, 1,2 juta relawan dari 180 negara bergabung di Special Olympics ini.

Di Indonesia, sejak didirikan pada 1989 hingga 2009, sebanyak 47.525 atlet dari 33 provinsi menjadi partisipan SOIna. ”Eunice yakin, melalui olahraga, penyandang tunagrahita akan mendapatkan kesehatan dan kebugaran fisik, kegembiraan dan percaya diri, dan pada akhirnya memperoleh pengakuan akan kesetaraan hak dan kewajibannya dan diterima sebagai bagian dari masyarakat,” ujar Pudji.

Seperti Tiok dan Tita, Sabtu kemarin menjadi hari yang menggembirakan bagi anak berkebutuhan khusus itu.

Tengok saja kegembiraan Fifi (10), anak penderita down syndrome. Dengan tuntunan ibunya, Zubaedah, Fifi bersemangat melempar bola-bola warna merah dalam lomba bocce. Ia tidak tahu ia mampu bertahan dan membuat lomba itu seri. Yang ia tahu, permainan selesai dan ia berlalu. Ah, meski terbatas di mata masyarakat umum, ternyata mereka bisa berprestasi.

Putra Michael Douglas “Berkebutuhan Khusus” - Harian Global (Blog)



Pindahnya pasangan Michael Douglas dan Catherine Zeta-Jones ke New York dari Bermuda rupanya punya satu tujuan khusus. Bukan demi mengejar popularitas sekali lagi, namun lebih karena kebutuhan salah satu anak mereka yang Douglas sebut sebagai 'kebutuhan khusus'.


Dylan, sang putra yang masih berusia 10 tahun, dinyatakan oleh ayahnya akan menempuh pendidikan untuk anak-anak 'berkebutuhan khusus' di New York. Oleh karena itu, mereka harus rela meninggalkan indahnya Bermuda untuk tinggal di salah satu kota tersibuk di dunia ini.



Sembari mengusahakan pendidikan yang layak bagi putra mereka, Douglas juga menyatakan bahwa ibu mereka akan mulai berakting di Broadway pada pertunjukan A Little Night Music.


"New York adalah rumah kami sekarang. Kami tinggal di Bermuda hanya sampai akhir September. Salah satu anak kami membutuhkan pendidikan khusus dan direkomendasikan untuk bersekolah di salah satu sekolah khusus di New York. Karena hal ini juga, Catherine akan mulai bermain di panggung musikal," ungkap aktor yang saat ini sedang menjalani kemoterapi untuk kanker tenggorokan yang dideritanya.


Tanpa menjelaskan lebih detil apa kebutuhan khusus Dylan, Douglas juga menambahkan bahwa dia dan Zeta-Jones akan sebaik-baiknya menjaga anak-anak mereka dari pengaruh buruk lingkungan. Hal ini mungkin berkaitan dengan anaknya dari perkawinan pertama, yang berusia 31 tahun, yang awal tahun ini dipenjara karena kasus obat-obatan terlarang.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Anak Berkebutuhan Khusus | October 2010