Monday, March 18, 2013

Pendidikan Seks <b>Anak Berkebutuhan Khusus</b> Penting - KOMPAS.com



 SEMARANG, KOMPAS.com - Psikolog Universitas Katolik Soegijapranata Semarang Lita Widyo Hastuti mengatakan pendidikan seks bagi anak berkebutuhan khusus sangat penting diberikan secara dini.

"Ada mitos jika anak berkebutuhan khusus tidak memiliki dorongan seksual, dorongan seksual berlebihan atau justru aseksual. Padahal, faktanya tidak demikian," kata Lita Widyo Hastuti, di Semarang, Minggu (23/12/2012).

Hal itu diungkapkannya di sela seminar sehari bertema "Pendidikan Seks Bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK); Mempersiapkan ABK Menghadapi Usia Puber" yang berlangsung di Hotel Siliwangi Semarang.

Menurut pengajar Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata itu, anak berkebutuhan khusus memiliki perkembangan dorongan seksual yang sama dengan anak lainnya, dan mereka justru mudah dimanipulasi.

"Mayoritas anak berkebutuhan khusus yang menjadi korban seksual, pelakunya justru orang-orang yang telah dikenal atau dipercaya. Mereka memang sangat rentan menjadi korban seksual," katanya.

Ia menyebutkan setidaknya 1.400 anak berkebutuhan khusus/tahun menjadi korban seksual di Inggris, dan anak berkebutuhan khusus perempuan di AS 1,5 kali lebih rentan jadi korban dibanding masyarakat umum.

Karena itu, ia mengingatkan pendidikan seks bagi anak berkebutuhan khusus perlu diberikan untuk memberikan mereka pemahaman tentang seksual, baik melalui pendidikan formal maupun nonformal.

"Pendidikan seks secara formal dilakukan lewat sekolah, sementara nonformal merupakan tanggung jawab orang tua. Namun, harus dilakukan secara konkret, bertahap, dengan pengulangan, dan pengukuhan," katanya.

Ia mengakui pendidikan seks bukan sekadar menyangkut seksual, tetapi mencakup biologis, psikologis, sosial, serta spiritual, dan pada anak berkebutuhan khusus berbeda metodenya dengan anak-anak lainnya.

"Pahami bahwa seks adalah alamiah, berikan informasi yang jelas dan konkret. Bicarakan seawal mungkin, jangan tunggung remaja, misalnya kenalkan anatomi tubuh untuk membedakan yang bersifat pribadi," kata Lita.

Sementara itu, Direktur Pusat Riset Biomedik (Cebior) Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Prof Sultana MH. Faradz mengatakan, anak berkebutuhan khusus bisa disebabkan faktor keturunan maupun tidak.

Ia mencontohkan penyebab anak "down syndrome" bisa terjadi karena penuaan sel telur yang dialami wanita di atas 35 tahun, keterlambatan pembuahan, atau penuaan spermatozoa akibat aktivitas senggama jarang.

Pendidikan seks bagi anak berkebutuhan khusus sangat penting, kata dia, khususnya yang mengalami gangguan perkembangan intelektual agar mereka tidak salah melangkah dan menjadi korban seksual.

"Sebaiknya dimulai sejak anak berusia tiga tahun, bisa dimulai pengenalan anatomi tubuh, perkembangbiakan mahluk hidup dengan menjadikan binatang sebagai contoh. Anak perempuan dipahamkan menstruasi," kata Sultana.


Anak berkebutuhan khusus bukanlah akhir dari segalanya, tapi awal dari perjalanan panjang untuk membesarkan dan mendidik mereka. Anak berkebutuhan khusus juga memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan anak pada umumnya.


SUMBER : http://edukasi.kompas.com/read/2012/12/23/23275374/Pendidikan.Seks.Anak.Berkebutuhan.Khusus.Penting

Sunday, March 17, 2013

Potret Buram <b>Anak Berkebutuhan Khusus</b> | BUNDA LUCY



A. Potret Buram Anak Berkebutuhan Khusus


Kita menyadari bahwa setiap anak memerlukan perkembangan selama kehidupannya, tidak terkecuali mereka yang tergolong sebagai  anak yang memiliki kemampuan dan perilaku sosial yang terbatas. Mengkaji anak tidak akan terlepas dari tiga landasan pokok penting, yaitu:
1.    alamiah vs lingkungan hidup (nature versus nurture)
2.    kelancaran vs ketidaklancaran (continuity versus discontinuity)
3.    perkembangan secara menyeluruh vs perkembangan dalam konteks khusus (universal context-specific development)


Landasan pertama, menyatakan bahwa apakah suatu “kelainan “ atau “kemampuan istimewa” seorang anak diperoleh oleh faktor alamiah (keturunan) atau faktor-faktor lingkungan yang diterapkan oleh para orang tuanya saat perkembangan anak terjadi. Landasan kedua, menyatakan bahwa apakah gejala-gejala perkembangan khusus akan nampak berjalan secara mulus dalam suatu kehidupan seorang anak atau terlihat adanya beberapa langkah-langkah perubahan secara tiba-tiba, misalnya seorang bayi yang memperoleh hubungan emosi yang cukup baik dari  orang tuanya, pada umumnya saat dewasa akan mempunyai hubungan yang baik sesama teman atau orang lain di sekitarnya, dan sebaliknya. Sedangkan landasan ketiga, menyatakan bahwa apakah perkembangan seorang anak bersangkutan hanya merupakan satu bagian kehidupannya atau perkembangan secara menyeluruh.


Untuk mengklasifikasikan perilaku abnormal pada anak-anak, hal pertama kita harus mengetahui apa yang dianggap normal pada usia tersebut. Untuk menentukan apa yang normal dan abnormal, khusus pada anak dan remaja yang perlu ditambahkan selain kriteria umum yang telah kita ketahui adalah faktor usia anak dan latar belakang budaya. Banyak masalah yang pertama kali teridentifikasi pada saat anak masuk sekolah. Masalah tersebut mungkin sudah muncul lebih awal tetapi masih ditoleransi, atau tidak dianggap sebagai masalah ketika di rumah. Kadang-kadang stres karena pertama kali masuk sekolah ikut mempengaruhi kemunculannya (onset). Namun, perlu diingat bahwa apa yang secara sosial dapat diterima pada usia tertentu, menjadi tidak dapat diterima di usia yang lebih besar. Banyak pola perilaku yang mungkin dianggap abnormal pada masa dewasa, dianggap normal pada usia tertentu.


Gangguan pada anak-anak ini sering kali di kelompokkan dalam dua kelompok yaitu eksternalisasi dan internalisasi. Gangguan eksternalisasi ditandai dengan perilaku yang diarahkan ke luar diri, seperti agresivitas, ketidakpatuhan, overaktivitas, dan impulsivitas dan termasuk berbagai kategori DSM-IV-TR, yaitu ADHD, gangguan tingkah laku (GTL), dan gangguan sikap menentang (GSM). Gangguan internalisasi ditandai dengan pengalaman dan perilaku yang lebih terfokus kedalam diri seperti depresi, menarik diri dari pergaulan social, dan kecemasan, termasuk juga anxietas dan mood dimasa anak-anak.


Anak berkebutuhan khusus (selanjutnya disebut dengan istilah ABK) adalah anak yang memang secara signifikan berbeda dalam beberapa dimensi yang penting dari fungsi kemanusiaannya. Mereka secara fisik, psikologis, kognitif, atau sosial terhambat dalam mencapai aktualisasi potensinya secara maksimal. Kebutuhan ABK, meliputi mereka yang mengalami kecacatan fisik seperti tuli, buta, mempunyai gangguan bicara, cacat tubuh, sampai pada yang terganggu fungsi-fungsi mentalnya. Dengan kata lain, anak yang tergolong luar biasa atau berkebutuhan khusus adalah anak yang menyimpang dari rata-rata anak normal dalam hal: ciri-ciri mental, kemampuan-kemampuan sensorik, fisik, dan neuromuskular, perilaku sosial dan emosional, kemampuan berkomunikasi, maupun kombinasi dua atau lebih dari hal-hal diatas; sejauh ia memerlukan modifikasi dari tugas-tugas sekolah, metode belajar atau pelayanan terkait lainnya, yang ditujukan untuk mengembangkan potensi atau kapasitasnya secara maksimal.


Dalam konteks yang umum, anak-anak yang dikategorikan sebagai ABK adalah anak-anak keterbelakangan mental, ketidakmampuan belajar atau gangguan atensi, gangguan emosional atau perilaku, hambatan fisik, hambatan komunikasi, autisme, traumatic brain injury, hambatan pendengaran, hambatan penglihatan, dan anak-anak yang memiliki bakat khusus. Makin sering gangguan-gangguan ini terjadi, maka gangguan ini dikategorikan sebagai high-incident;  antara lain ketidakmampuan belajar (Learning Disabilities), gangguan komunikasi (speech and language), gangguan emosional, dan keterbelakangan mental ringan dikategorikan sebagai high-incident. Sedangkan gangguan lainnya yang dikategorikan sebagai low-incident artinya gangguan ini jarang terjadi; seperti low vision dan tuna netra, tuna rungu, paduan antara tuna rungu dan tuna netra, keterbelakangan mental yang parah, dan autisme. Ada beberapa gangguan yang dikategorikan sebagai low-incident belakangan ini meningkat tajam seperti autisme dan traumatic brain injury.
B. PENYEBAB ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS


Seorang anak mengalami menjadi ABK disebabkan oleh beberapa hal antara lain dari dalam dan dari luar.


1. Penyebab dari luar
Penyebab yang bersumber dari luar, meliputi:
a.    Maternal malnutrition, atau malnutrisi pada ibu yang tidak menjaga pola makan yang sehat.
b.    Keracunan atau efek substansi waktu ibu hamil yang bisa menimbulkan kerusakan pada plasma inti, misalnya karena penyakit sipilis, racun dari kokain, heroin, tembakau, dan alkohol. Saat ini banyak penelitian yang mengekspos fetal alcohol syndrome (FAS) yang merupakan masalah yang signifikan pada janin dari ibu yang mengkonsumsi alkohol dalam jumlah banyak. Anak-anak yang mengalami hal tersebut kini dikatakan mengalami fetal alcohol effect (FAE).
c.    Radiasi, misalnya sinar X-rays atau nuklir.
d.    Kerusakan pada otak waktu kelahiran, misalnya lahir karena alat bantu/pertolongan, lahir prematur atau LBW (Low Birth Weight).
e.    Panas yang terlalu tinggi, misalnya pernah sakit keras, typhus, cacar dan sebagainya.
f.    Infeksi pada ibu, misalnya rubella (campak Jerman) yang merupakan penyebab potensial dari keterbelakangan mental, selain juga kebutaan. Rubella paling berbahaya pada tiga bulan pertama usia kehamilan. Selain itu, syphilis dan simplex yang ditularkan ibu pada bayi ketika melahirkan juga berpotensi menyebabkan keterbelakangan menatal anak (Hallahan & Kauffman, 2006, p.143).
g.    Gangguan pada otak, misalnya ada tumor otak, anoxia (deprivasi oksigen), infeksi pada otak, hydrocephalus atau microcephalus.
h.    Gangguan fisiologis, seperti Down Syndrome, cretinism.
i.    Pengaruh lingkungan dan kebudayaan, misalnya pada anak-anak yang dibesarkan di lingkungan yang buruk. Kasus-kasus abusif, penolakan, atau kurang stimulasi yang ekstrim dapat berakibat pada keterbelakangan mental.


2. Penyebab dari dalam
Yaitu sebab dari faktor keturunan. Sebab ini dapat berupa gangguan pada plasma inti atau chrommosome abnormality.


Anak berkebutuhan khusus bukanlah akhir dari segalanya, tapi awal dari perjalanan panjang untuk membesarkan dan mendidik mereka. Anak berkebutuhan khusus juga memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan anak pada umumnya.


SUMBER : http://www.bundalucy.com/potret-buram-anak-berkebutuhan-khusus/

Saturday, March 16, 2013

Alexander, Mengabdi untuk <b>Anak Berkebutuhan Khusus</b> - KOMPAS <b>...</b>



KOMPAS.com - Sebagian orang awalnya tak keberatan menjadi guru bagi anak berkebutuhan khusus. Akan tetapi, saat menghadapi kondisi anak berkebutuhan khusus dengan berbagai keterbatasan masing-masing, sebagian dari mereka memilih mengundurkan diri. Namun, Alexander de Fretes, yang lebih dari 27 tahun mengabdi sebagai guru bagi anak berkebutuhan khusus, tetap saja merasa ada yang kurang dalam memenuhi kebutuhan mereka.

Saya merasa belum sukses, masih banyak yang perlu dilakukan untuk membuat mereka mandiri,” kata Fretes, panggilan pendidik pada Pendidikan Luar Biasa Asuhan Kasih, Kupang, Nusa Tenggara Timur, ini.

Fretes, yang juga pendiri dan pemilik Yayasan Asuhan Kasih, memang memilih fokus pada pendidikan anak berkebutuhan khusus (ABK). Ada empat kategori ABK pada tingkat SD, SMP, dan SMA Asuhan Kasih, yakni tunanetra, tunarungu, tunagrahita (seperti lambat belajar, lambat bicara, hiperaktif, autis, dan sindrom down), serta tunadaksa.

SDLB, SMPLB, dan SMALB itu didirikan tahun 1985 di atas lahan yang merupakan hibah dari Pemerintah Kota Kupang. Pemerintah juga membantu sejumlah kebutuhan bagi proses pendidikan di lembaga itu, termasuk bagi 40 anak yang tinggal di asrama. Tak ada iuran tertentu yang dikenakan kepada orangtua ABK.

Fretes berasal dari Kisar, Maluku. Ia lulus dari sebuah sekolah guru pendidikan luar biasa di Bandung, Jawa Barat, tahun 1969. Tahun 1970 dia membuka pendidikan khusus bagi anak-anak berkebutuhan khusus di rumahnya di Kupang. Sekolah itu beroperasi sampai tahun 1974.

Sekolah bagi siswa ABK itu kemudian dipindah setelah Fretes memperoleh satu ruangan khusus pada Sekolah Kepandaian Putri di Kupang tahun 1975.

Tahun 1984, dengan dukungan dana Rp 100 juta dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Fretes bisa membangun lembaga pendidikan khusus bagi ABK di NTT. Ketika itu belum ada SD, apalagi sekolah menengah luar biasa di NTT.

”Bulan Januari 1985 kami menerima 24 ABK di gedung ini, dengan empat kategori tersebut. Mereka berasal dari 15 kabupaten di NTT. Dari 24 siswa binaan ini, satu orang di antaranya telah menjadi guru di sekolah ini. Dia anak tunadaksa, kaki dan tangannya tidak normal. Tetapi, dia berhasil lulus dari Universitas PGRI Kupang,” ujar Fretes bangga.

Ditolak

Selama 27 tahun bekerja lewat lembaga Asuhan Kasih, Fretes telah membantu sekitar 7.000 ABK. Dari jumlah itu, 45 persen atau 3.150 siswa berhasil menjadi manusia mandiri. Namun, Fretes merasa apa yang dia lakukan belum maksimal.

Pasalnya, banyak kantor pemerintahan dan swasta yang masih menolak calon pekerja dengan status berkebutuhan khusus. Biasanya, begitu pihak perusahaan atau instansi melihat penampilan calon karyawan dengan kebutuhan khusus, mereka langsung menolaknya.

Meski orang dengan kebutuhan khusus telah mengantongi ijazah pendidikannya, begitu melihat yang menerbitkan ijazah pelamar itu adalah sekolah luar biasa, instansi atau perusahaan tersebut pun menolak.

”Saya tidak menuntut mereka (orang berkebutuhan khusus) menjadi orang hebat dalam masyarakat. Mereka bisa hidup mandiri, tidak bergantung pada orang sekitarnya, saja saya sudah senang. Kemandirian itu membuat mereka tidak menjadi beban bagi orang lain atau keluarganya,” kata Fretes.

Untuk memandirikan siswa, ia bersama para guru membantu ABK agar setidaknya bisa menghidupi diri sendiri. Mereka diberi pelatihan, seperti menjahit, kerja perkayuan, dan membuat sofa, jok mobil, kerajinan tenun ikat, kerajinan bambu, batako, tikar lontar, sampai membuat alat musik sasando.

”Hasil karya mereka dipamerkan pada 17 Agustus di pusat pameran Fatuleu, Kupang. Ada pula yang kami titipkan di sejumlah toko untuk dijual,” kata Fretes yang sekolahnya kini menampung 162 siswa, 40 di antaranya tinggal di asrama.

Mereka yang tinggal di asrama umumnya berasal dari luar Kupang, seperti Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, dan Kabupaten Kupang. ”Mereka berasal dari keluarga tak mampu, jadi pihak sekolah tidak memungut biaya pendidikan,” ujarnya.

Pelatihan untuk guru

Dalam mengelola sekolah itu, Fretes dibantu 21 guru. Sebanyak 5 guru di antaranya berlatar pendidikan sekolah luar biasa, sedangkan 16 guru lainnya berpendidikan guru umum. Semua guru itu diberi pembinaan atau pelatihan terlebih dahulu sebelum mengajar.

Pelatihan itu penting sebagai bekal bagi guru untuk mengajar ABK. Sebab, menurut Fretes, ada kecenderungan sebagian guru memperlakukan ABK layaknya siswa di sekolah umum. Padahal, di sini siswa memerlukan pengertian dan kesabaran dari guru.

”Sudah puluhan guru yang dikirim dari kabupaten untuk mengikuti pelatihan mendampingi anak berkebutuhan khusus di sekolah ini. Tetapi, jarang sekali yang mau dan bisa bertahan. Mereka minta pulang lebih awal, bahkan dari jadwal dua pekan yang disediakan. Mereka tak cukup sabar mengajar siswa berkebutuhan khusus di sini,” ujarnya.

Sebagian guru mengaku merasa khawatir kalau mereka tak cukup sabar mengajari siswa berkebutuhan khusus.

”Masih ada anggapan negatif di kalangan masyarakat, semacam hukum karma, bila kita marah, emosi, jengkel, atau menertawakan siswa berkebutuhan khusus, kita pun bakal mendapat anak seperti itu,” katanya.

Namun, Fretes mengatakan, guru bagi siswa berkebutuhan khusus memang harus memiliki ”panggilan untuk mengabdi”. Dalam mendidik ABK, diperlukan pendekatan kasih sayang dan pengorbanan dari guru.

”Sekolah luar biasa ini tidak butuh guru-guru berkategori pintar, tetapi bagaimana semua pengetahuan yang mereka miliki terfokus pada unsur kasih sayang demi kemandirian ABK,” ujar Fretes.

Lulusan Lembaga Pendidikan Asuhan Kasih mendapat ijazah khusus sebab materi pelajaran yang diberikan di sini berbeda dengan sekolah umum. ”Kami berusaha menyampaikan pelajaran sesederhana mungkin tanpa mengganggu emosi atau keterbatasan mereka,” katanya.

”Pendidikan berlangsung secara umum di dalam kelas. Tetapi, jika ada siswa yang mampu lebih berkembang atau sebaliknya dan memerlukan pendampingan khusus, kami usahakan memenuhinya,” kata pria yang seakan tidak kenal kata putus harapan ini.


Anak berkebutuhan khusus bukanlah akhir dari segalanya, tapi awal dari perjalanan panjang untuk membesarkan dan mendidik mereka. Anak berkebutuhan khusus juga memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan anak pada umumnya.


SUMBER : http://edukasi.kompas.com/read/2013/01/30/10343786/Alexander.Mengabdi.untuk.Anak.Berkebutuhan.Khusus

Friday, March 15, 2013

Baru 200 Unit Sekolah Untuk <b>Anak Berkebutuhan Khusus</b> - Dinas <b>...</b>




SAMARINDA – Searah dengan kebijakan Undang-Undang Dasar 1945 yang mengamanatkan bahwa setiap anak berhak atas kelangsunga hidup dan diskriminasi, di Balaikota Senin (18/2) berlangsung kegiatan sosialisasi Anak Berkebutuhan Khusus yang melibatkan para orang tua. “Karena sesuai dengan kekhususannya anak dengan  kebutuhan khusus tersebut memerlukan pola pendidikan berbeda sesuai tingkat keparahan kondisi anak bersangkutan” demikian dikatakan Kepala Badan Perberdayaan Masyarakat dan Perempuan Hj. Nurul Muminayati ketika membuka kegiatan pagi itu. Terlebih bagi para orang tua lanjutnya, dalam menghadapi  anak dengan kebutuhan khusus ini tentu memerlukan kesabaran ekstra. Untuk itu kata dia, pihaknya memandang perlu melakukan kegiatan ini guna lebih memberi pemahaman sehingga bisa lebih memberi daya dorong tersendiri dalam upaya pemulihan, selain peran penting guru ataupun terapis. “Selain orang tua peran guru dalam penangan anak dengan kebutuhan khusus ini memang sangat diperlukan, sebab sebagaimana kita ketahui tidak sedikit anak dengan kebutuhan khusus tersebut saat ini bersekolah pada sekolah-sekolah umum”.jelasnya. Sementara itu, nara sumber dari Yayasan Sinar Talenta, Widarwati menyebutkan, upaya pemenuhan hak-hak anak berkebutuhan khusus saat ini sepenuhnya memang masih belum terpenuhi, baik itu dilingkungan keluarga, disekolah dan juga dimasyarakat. “Bukan hanya di Samarinda, dalam ukuran nasionalpun dari 1000 unit sekolah yang dibutuhkan saat ini baru 200 yang tersedia, itupun belum bisa berjalan semua” sebutnya. Hal ini selain disebabkan oleh keterbatasan dana juga didukung minimnya SDM untuk bidang tersebut. Untuk itu dia berharap dengan adanya sosialisasi ini bisa lebih memberi pemahaman lebih bagi para orang tua dalam memberikan pola pengasuhan bagi anak berkebutuhan khusus tersebut. ”Dengan keterbatasan pancaindra ABK lebih lebih fokus dalam satu pandangan dalam dirinya, untuk itu perlu penanganan dalam bagian lingkungan terlepas dari kompleksitas atau kekurangannya, oleh sesab itu memang sangat dibutuhkan kesabaran dalam menghadapinya” pesan Widar.(Hms3).

Anak berkebutuhan khusus bukanlah akhir dari segalanya, tapi awal dari perjalanan panjang untuk membesarkan dan mendidik mereka. Anak berkebutuhan khusus juga memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan anak pada umumnya.


SUMBER : http://disbudparkomsamarindakota.blogspot.com/2013/02/baru-200-unit-sekolah-untuk-anak.html

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...